The Blog

Pandemi Covid-19 semakin mewabah di seluruh dunia. Berbagai event olahraga terpaksa harus ditunda bahkan dibatalkan untuk mengurangi risiko semakin meluasnya wabah Covid-19. Salah satu yang terbaru adalah ditundanya event tahunan Olimpiade Tokyo 2020, yang dilansir pada laman resminya (Selasa, 24/3/2020).

Cincin Olimpiade ditampilkan di depan lokasi pembangunan Stadion Nasional Baru, stadion utama Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020, selama kesempatan media di Tokyo, Jepang, 3 Jul 2019.(channelnewsasia.com/Reuters/Issei Kato)

Tak ada yang kebal terhadap virus corona, berbagai kalangan bisa tertular mulai dari pejabat hingga para atlet profesional. Beberapa atlet profesional telah dinyatakan positif terkena virus ini seperti Daniel Rugani (Juventus), Mikael Arteta (Pelatih Arsenal), Callum Hudson-Odoi (Chelsea), Patrick Cutrune (Fiorentina), dan Paulo Dybala (Juventus) serta yang terbaru adalah Marouane Fellaini (Shandong Luneng) . Selain pemain sepakbola, beberapa atlet dari cabang lain seperti bola basket, balap sepeda, baseball, golf, dan berbagai cabang lainnya juga terkena inveksi virus Covid-19.

Marouanne Fellaini Positif terkena Covid-19

Lantas, bagaimana seorang atlet profesional yang memiliki tingkat kebugaran tingkat ‘dewa’ bisa terpapar infeksi COVID-19? Padahal yang kita ketahui seorang atlet profesional pastilah memiliki tubuh yang sehat dan bugar. Ditambah lagi mereka selalu didampingi para nutrisionis sehingga asupan gizi mereka selalu terjamin. Dengan tubuh yang sehat dan gizi tercukupi tersebut seharusnya atlet juga memiliki tingkat imunitas yang tinggi. Bukankah katanya salah satu cara untuk terhindar dari virus ini adalah dengan menjaga imunitas?

Sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Anthony C. Hackney. Penulis tersebut meneliti tentang hubungan intensitas pada latihan terhadap level imunitas seseorang. Hasilnya didapatkan bahwa, Melakukan kegiatan olahraga dalam porsi dan intensitas tertentu memang dapat meningkatkan imunitas tubuh.

Tinjauan Skematis Tentang Komponen Dasar Sistem Kekebalan Tubuh (Hackney, 2013:752)

Akan tetapi, ternyata intensitas olahraga tidak selalu berbanding lurus dengan imunitas. Terdapat satu titik pertemuan yang sama dimana jika seseorang melakukan olahraga dengan intensitas yang lebih berat dari itu justru akan membuat imunitas tubuhnya menurun. Pernyataan ini dikenal dengan istilah J-Curve dimana curva yang seperti huruf J menunjukan bahwa melakukan olahraga dengan intensitas yang berat justru membuat imunitas tubuh menjadi lemah, bahkan akan menjadi lebih lemah dari orang yang tidak berolahraga.

Konsep Respon Imunitas Terhadap Intensitas Latihan Olahraga (Hackney, 2013:754)

Praktisi kesehatan olahraga dari Slim and Health Sports Therapy, dr Michael Triangto SpKO, mengatakan seorang atlet olahraga tidak selalu memiliki imunitas atau daya tahan tubuh yang tinggi karena tujuan dari mereka berolahraga memang tidak selalu untuk kesehatan. Dalam berolahraga, atlet juga dibebani target untuk berprestasi. Beliau juga mengatakan “Olahraga itu ada tiga tujuan, yang pertama adalah untuk sehat, kedua untuk prestasi, dan ketiga untuk rekreasi. Jadi kalau kita sudah memilih satu, tentu tujuan yang lain akan hilang,”

Pada atlet profesional dari cabang olahraga lain tentu akan memaksa tubuhnya melakukan latihan yang melebihi batas agar bisa menunjukan performa di atas level manusia biasa “dewa” sewaktu pertandingan. Untuk mencapai level tersebut latihan yang mereka lakukan tentu bukan latihan biasa-biasa saja. Hampir setiap hari dalam kehidupan seorang atlet akan melakukan latihan pada level yang di atas kemampuan manusia biasa.

Pada kondisi inilah seorang atlet memiliki kondisi imunitas yang lemah. Tubuhnya mungkin bugar dan kuat. Mereka bisa memiliki VO2Max dan komponen kebugaran jasmani yang luar biasa. Namun bukan berarti mereka memiliki imunitas yang sama baiknya.

Kemudian dalam hasil penelitian tersebut menyatakan ada faktor lain yang mempengaruhinya yaitu tidak sedikit pula atlet yang mengalami Over Training Syndrome. OTS  akan terjadi pada seseorang apabila melakukan latihan secara berlebihan ditambah dengan tekanan lain dalam hidupnya seperti emosi, kecemasan, finansial, dan yang lainnya. Kondisi ini kemudian membuat kegagalan tubuh dalam melakukan adaptasi fisiologis dan memicu penurunan performa fisik. Latihan yang terlalu berlebihan juga menimbulkan trauma pada jaringan otot skelet dan pembentukan sitokin proinflamasi. Hal ini membuat tubuh menjadi mudah terserang penyakit, terutama bagian pernafasan. Dalam ilmu sains olahraga kondisi ini disebut dengan periode open window

Buat Anda yang pernah melakukan aktivitas lari maraton, atau pernah mengikuti event olahraga yang menguras banyak tenaga, biasanya satu sampai dua hari setelahnya Anda akan mengalami bersin-bersin seolah tubuh Anda mengalami flu. Hal itu adalah reaksi alami yang dikeluarkan tubuh saat sedang berada dalam periode open window. Kondisi tubuh ketika saat itu sedang dalam posisi mempunyai imunitas rendah dan sangat rentan terserang penyakit.

Pada saat periode open window ini biasanya berlangsung selama 3-72 jam setelah tubuh melakukan aktivitas fisik sangat berat. Dapat kita bayangkan bagaimana kondisi tubuh para atlet profesional yang hampir setiap hari mengalami kondisi seperti ini. Karena itulah seorang atlet membutuhkan berbagai asupan vitamin tambahan agar tubuhnya selalu siap saat menghadapi kondisi ini.

Keputusan yang sangat tepat yang diambil oleh berbagai federasi olahraga untuk menghentikan sementara kompetisi Karena ancaman infeksi Covid-19 bukan hanya kepada para suporter yang hadir di dalam keramaian pertandingan olahraga saja, melainkan juga kepada para atlet yang memiliki imunitas rendah akibat kelelahan fisik setelah latihan keras dan kompetisi. Seorang atlet profesional yang memiliki pola hidup teratur dengan dan fasilitas terjamin serta dikelilingi oleh para ahli saja bisa terkena infeksi virus Covid-19. Apalagi kita manusia biasa dengan pola hidup dan pola makan yang tidak beraturan.

Kita semua harus sadar bagaimana kondisi saat ini mengancam semua kalangan tanpa terkecuali. Himbauan pemerintah untuk tetap berada di rumah dan mengurangi aktivitas sosial di luar yang tidak penting serta menerapakan social distancing dirasa sudah benar dan harus dilaksanakan secara disiplin untuk mengurangi penyebaran virus ini secara lebih luas.

#StayAtHome #SocialDistancing #Belajardarirumah

Artikelnya bisa di Download di sini

Ilustrasi Gambar : Wahyu Siswanto

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Your Comment*

Name*

Email*

Website